Basic Training Keahlian Khusus Rock Climbing dan Caving 2022

Jumat, 11 Februari 2022 kami berangkat ke Pantai Siung, Gunung Kidul. Divisi yang berangkat terdiri dari dua yaitu divisi Rock Climbing dan divisi Caving. Tim kami berjumlah sebelas orang dengan ditemani dua instruktur. Kami berangkat bersama ke Pantai Siung dari basecamp WAPEALA di Pleburan pada pukul 07.30 dan sampai di sana pada pukul 14.30. Sesampainya di sana, tim langsung menurunkan barang-barang dari truk menuju tempat singgah kami di Warung Mbah Ido. Di sana kami istirahat sejenak sambil mempersiapkan untuk orientasi medan (ormed) di tebing yang akan kami panjat di hari esok. Setelah istirahat sejenak, kami segera bergegas menuju tebing dengan bersemangat. Selama ormed, kami melihat tebing-tebing dengan keindahannya yang langsung menghadap ke pantai, di sana kami semakin bersemangat dan tidak sabar untuk memanjat sampai ke puncaknya. Setelah menyusuri seluruh tebing yang ada di sana, kami kembali lagi ke tempat singgah kami untuk bersih-bersih dan menyiapkan untuk makan malam.

Pagi harinya, kami memasak sebelum memanjat tebing. Setelah sarapan, kami menyiapkan alat-alat untuk memanjat. Kemudian kami bergegas menuju ke tebing dengan membawa carrier gigan 100 lt yang sangat berat karena berisi banyak alat untuk pemanjatan yang terbuat dari metal. Sesampainya di tebing, kami membangun tempat untuk berteduh menggunakan flysheet. Tim yang akan memanjat dibagi menjadi dua yaitu tim jalur sport dan artificial. Pada jalur sport satu persatu tim mencoba memasang runner di hanger pada tebing. Pada jalur sport tersebut, memang letak kesulitannya ada di awal. Letak kesulitannya adalah tebing yang licin, tajam, dan rapuh. Oleh karena itu banyak yang jatuh pada saat memasang di runner tiga. Beberapa anggota tim mengalami lecet dan luka. Pada jalur artificial, tingkat kesulitannya berbeda dari jalur sport karena pada jalur ini kami memasang satu persatu pengaman sisip pada tebing sebagai jalur runner kami. Tim artificial yang berjumlah lima orang dapat menyelesaikan pemanjatan dengan baik dan kelimanya dapat sampai ke puncak tebingnya. Sedangkan pada jalur sport dengan tim yang berjumlah enam banyak yang kesulitan di runner tiga. Namun, ada dua pemanjat yang akhirnya berhasil untuk naik ke puncak dan merasakan keindahannya pantai. Sore hari telah tiba, kami segera membersihkan semua alat dan sampah yang ada untuk kembali ke tempat persinggahan kami. Sesampainya di sana, kami langsung bersih-bersih diri dan mempersiapkan untuk makan malam nantinya. Hari ini memang sangat melelahkan karena kami pertama kali memanjat di tebing nyata. Namun, kami sangat bahagia karena dapat memanjat tebing dengan keindahan yang luar biasa.

Hari kedua pemanjatan, kedua tim ditukar yang awalnya memanjat di jalur sport menjadi jalur artificial dan sebaliknya. Kami mulai mempersiapkan untuk memanjat dengan semangat, tim kedua mulai untuk memanjat jalur sport karena kemarin tim pertama kesusahan pada jalur yang sebelah kiri, kini tim kedua mencoba untuk memanjat dari jalur sebelah kanan. Dan benar, tim kedua semuanya dapat memanjat sampai puncaknya.

Pada jalur artificial, satu persatu mulai memanjat belum ada kesulitan yang sangat berat. Namun, ada salah satu anggota tim yang kesusahan naik waktu hampir sampai kepuncaknya, dia bertahan di sana hampir satu jam, kamipun tidak tinggal diam, kami memberi semangat agar dia dapat naik sampai ke puncaknya. Setelah hampir satu jam akhirnya dia dapat naik ke puncak dengan sangat bahagia.

Keesokan harinya, kami bersiap-siap untuk pergi meninggalkan Pantai Siung karena kami akan berpindah ke gua yang ada di salah satu daerah Gunung Sewu, DI Yogyakarta. Setelah persiapan selesai, kami berpamitan dengan Mbah Ido, pemilik warung yang kami singgahi. Tidak lupa kami mengambil beberapa dokumentasi sebagai kenangan yang tidak akan kami lupakan. Tidak lama setelah itu, kamipun berangkat menuju Gunung Sewu. Sesampainya di balai dusun, kami langsung menaruh barang-barang dan langsung mempersiapkan diri untuk ormed pada guanya. Setelah semuanya siap, kamipun langsung menuju gua, ada dua gua yang akan kami susuri yaitu Gua Cokro (gua vertikal) dan Gua Dadap (gua horizontal). Sesampainya di Gua Cokro, kami hanya bisa melihat dari mulut gua saja karena untuk turun ke gua kami perlu menggunakan tali dan set alat. Setelah dari Gua Cokro, kami langsung menuju ke Gua Dadap. Sesampainya di sana, kami masuk satu persatu untuk melihat isi dalam guanya. Setelah kami masuk, di dalam gua kami melihat ornamen gua yang sangat indah, tidak lupa kami menyempatkan untuk mengambil dokumentasinya. Setelah hampir dua jam di dalam gua, kami memutuskan untuk kembali ke balai desa tempat kami singgah untuk mempersiapkan makan malam dan bersih-bersih diri.

Pagi harinya, setelah kami melakukan aktivitas camp, kami kembali lagi dibagi menjadi dua tim yaitu tim horizontal yang akan menyusuri Gua Dadap, dan tim vertikal yang akan menyusuri Gua Cokro. Setelah kami bersiap diri, kami bergegas menuju Gua Cokro untuk melakukan briefing. Sesampainya di sana, kami melakukan doa bersama dan briefing. Setelah selesai tim gua horizontal langsung menuju ke Gua Dadap dengan dipandu instruktur. Sedangkan tim vertikal langsung mempersiapkan diri untuk memakai set SRT.  Satu persatu tim vertikal menuruni gua, setelah sampai di dasar, kami menyusuri gua yang sangat besar dan lumayan panjang. Di dalam kami bertemu dengan hewan yang ada di gua seperti kalacemati, jangkrik, kelelawar, dan masih banyak lagi. Tidak lupa kami juga mengambil dokumentasi dengan ornamen gua yang sangat indah. setelah mengambil dokumentasi, kamipun langsung menyusur gua yang panjangnya kurang lebih 200 meter. Sesampainya di ujung gua, dengan oksigen yang semakin berkurang, kami mencoba untuk mematikan senter yang kami nyalakan sejak masuk gua tadi. Saat senter dimatikan kami benar-benar baru merasakan yang namanya gelap abadi. Setelah beberapa lama di dalam gua akihrnya kami memtuskan untuk naik karena oksigen yang semakin berkurang. Pada tim horizontal, mereka tidak hanya melakukan susur gua tetapi mereka juga melakukan mapping pada Gua Dadap. Kesulitan medan yang dihadapi berbeda dengan yang ada di Gua Cokro. Disana mereka harus tetap mapping di tengah beceknya gua ditambah lagi dengan tinggi di dalam gua yang sangat rendah, bahkan kami di tengah jalan harus merunduk dan merayap. Hal tersebut merupakan tantangan tersendiri yang kami hadapi. Namun kami tidak tinggal menyerah dan kamipun tetap berhasil melakukan mapping dengan waktu dua jam.

Pada hari selanjutnya, kami kembali melakukan susur gua. Sekarang tim yang awalnya ada di gua vertikal ditukar dengan gua horizontal. Setelah kami melakukan briefing dan doa bersama, kami melanjutkan perjalanan di gua horizontal. Sesampainya di sana, kami langsung mengeluarkan alat untuk mapping, menyalakan senter kami, dan memulai untuk mengukur satu per satu stasioner. Karena kami melakukan mapping di hari akhir, kami melakukannya dengan santai dan berharap untuk hasil yang kita gambar maksimal. Didalam kami menemukan berbagai macam ornamen yang sangat indah, kami tidak lupa untuk mencantumkannya pada peta yang kita gambar. Kamipun berhasil melakukan mapping dengan waktu yang cukup lama yaitu empat jam.

Setelah kami selesai dengan mapping dan susur gua, kami memutuskan untuk kembali ke balai dusun untuk melakukan bersih diri dan membersihkan alat. Setelah itu kami mempersiapkan untuk makan malam. Karena besok kami akan kembali ke semarang, kami mempersiapkan barang kami untuk dipacking agar esok harinya kami tidak kerepotan untuk membersihkan barang bawaan kami. Setelah itu, kami melakukan evaluasi untuk kegiatan hari itu, dan briefing untuk kepulangan besok.

Hari kepulangan telah tiba, dengan rasa sedih, kamipun meninggalkan balai dusun menggunakan truk. Selama di perjalanan, kamipun terlelap karena sangat kelelahan setelah berkegiatan di lapangan, tetapi kami bahagia karena mendapatkan pengalaman yang tidak akan kami dapatkan di manapun. Selain mendapatkan pengalaman, selama kami berkegiatan banyak ilmu yang kami dapatkan dari para instruktur kami.

Penulis  : Ananda Hikmawan (W-760 Macaca nigra)

Editor : Kanzu Khairon Adli (W-717 Iomys horsfieldii)

Kaynak : antalya haber

Leave a Reply

Your email address will not be published.