BTKK RC & CAVING MASA BAKTI LAPIS XXXV

Rasa
penat yang melanda ketika selesai mengerjakan ujian akhir semester tidak menyurutkan
niat kami para masa bakti lapis XXXV untuk melanjutkan apa yang telah kami
mulai sejak awal penerimaan untuk menjadi bagian dari anggota WAPEALA. Kami 10
dari 23 Masa Bakti WAPEALA Laps XXXV mengikuti kegiatan Basic Training Keahlian
Khusus Rock Climbing dan Caving yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan
penerimaan Mahasiswa Pecinta Alam (WAPEALA) Undip. Lokasi yang akan dituju
adalah Kalipancur untuk RC dan daerah Gunung Kidul untuk Caving.
Kegiatan dimulai dari karantina yang dijalani pada tanggal 14 Desember 2018,
bertempat di PKM Joglo. Malam karantina kami diawali dengan pemeriksaan
kesehatan tiap masa bakti. Kemudian, kami diarahkan untuk melakukan packing,
baik itu bahan makanan untuk bekal perjalanan maupun barang keperluan
kelompok untuk di lapangan. Setelah selesai, Ketua Pelaksana membacakan tata
aturan yang wajib dipatuhi oleh masa bakti selama mengikuti kegiatan.

Pikiran
kami dipenuhi rasa takut karena terbayang oleh kegiatan karantina sebelumnya
pada kegiatan pengenalan medan. Akan tetapi, kegiatan karantina pada malam itu
benar-benar berbeda. Review materi dilakukan dengan duduk melingkar dan
tanya-jawab yang fleksibel dari anggota biasa hingga seluruh masa bakti paham
tentang apa yang harus dilakukan di lapangan nanti. Segala pemikiran buruk dari
pikiran kami segera hilang malam itu juga, dan timbul pemikiran bahwa kegiatan
yang akan kami lakukan sangat berbeda dari sebelumnya.

Keesokan
paginya, kegiatan kami adalah berolahraga, sarapan pagi, dan memulai upacara
keberangkatan. Truk yang akan kami tumpangi sudah menunggu untuk dinaiki dan
kami siap untuk diberangkatkan diiringi dengan peluit dan teriakan “WAPEALA”.
Selama perjalanan diisi dengan istirahat, mengingat katanya jalur tracking yang
akan dilalui itu berat.

Sesampainya
kami di tujuan pertama untuk menjalani BTKK RC, tracking dimulai dengan
jalur turun yang licin karena dekat dengan sumber air sehingga beberapa
mengalami kesuliotan dalam membawa carrier, kemudian kami harus melalui
sedikit jalur naik utnuk mencapai tempat camp. Pembagian tugas mulai
dilakukan dengan 6 orang mendirikan camp dan 4 orang lainnya melakuakn
pengecekan alat. Setelah itu, kami diberikan waktu untuk istirahat, sholat, dan
makan. Sore harinya, dilanjut dengan orientasi medan untuk jalur pemanjatan dan
pembagian tiugas untuk kegiatan camp pada malam hari, kemudain ada
evaluasi sebelum istirahat.

              Kegiatan pemanjatan kami lakukan
selama tiga hari dengan mencoba jalur pemanjatan sport dan artificial,
disamping itu ada juga yang melakukan boulder di sebelah jalur sport
 yang sebelumnya telah dibersihkan.
Hari pertama setelah bangun pagi, kami menyiapkan sarapan, kemudia dilanjutkan
dengan olahraga, lalu bersiap-siap untuk melakukan pemanjatan, setelah sampai
di tebing, kami melakukan pemanjatan dengan dibagi tugas untuk menjadi leader
dan belayer untuk jalur sport dan artificial. Pada
siang hari, kami diberi waktu untuk istirahat, sholat, dan makan, kemudian
dilanjutkan lagi dengan pemanjatan sampai sore hari. Selesai pemanjatan,
beberapa dari kami menyiapkan makan malam, ada yang sholat dan ada yang membuat
api unggun. Kami makan malam sambil menunggu waktu evaluasi, dan setelahnya
kami beristirahat.

              Hari kedua pemanjatan sama seperti
sebelumnya, hanya saja ditambah dengan boulder. Namun yang membuat hari
kedua berbeda adalah salah satu dari kami ada yang berhasil mencapai pitch satu
pada pemanjatan artificial, lalu disusul dengan belayer dan prusiker
yang naik untuk membawa makanan. Setelah itu, prusiker dan ledaer
turun ke bawah, kemudian belayer melakukan tali bagi dan dinyatakan
berhasil. Hari ketiga merupakan hari terakhir pemanjatan dan kegiatan yang
dilakukan kurang lebih sama dengan hari sebelumnya. Pada hari ketiga ini pula
terjadi insiden kehilangan salah satu alat pemanjatan yaitu carabiner delta
screw.
Kehilangan alat ini membuat kami semua harus merelakan waktu
istirahat kami untuk mencarinya di sekitar area pemanjatan hingga lewat tengah
malam. Bulu kuduk kami merinding dalam pencarian tersebut karena menurut salah
satu anggota memang kerap kali terjadi hal-hal seperti kehilangan alat
menjelang hari terakhir, namun alat tersebut juga nantinya dapat ditemukan di
tempat-tempat yang tidak terduga. Kami segera menyimpulkan bahwa kehilangan
alat ini berkaitan dengan hal mistis.

              Pagi harinya, pencarian kembali
dilanjutkan oleh beberapa orang sementara yang lainnya menyiapkan makan pagi.
Saat sedang sibuk menyiapkan makanan serta merapikan barang-barang, salah satu
dari kami berteriak mengabari bahwa ternyata alat yang hilang itu ada di pitch
satu jalur sport. Ketika mendengar hal tersebut, kami spontan berteriak
gembira. Segala pikiran tentang mengganti alat ataupun membuat laporan
kehialngan kepada para anggota hiulang seketika. Kami pun nmelanjtukan makan
pagfi kami dengan ceria dan dilanjutkan dengan packing semua barang
perlengklapan yang kami bawa, membersihkan area camp dan olahreaga.
Kemudian kami dikumpulkan untuk dicek kembali apakah ada yang tertinggal.
Setelah diyakini tidak ada lagi yang tertinggal, perjalanan dimulai dengan tracking
 menuju lokasi truk di atas.
Sesampainya di atas, barang dinaikkan dan kami juga ikut naik, perjlanan pun
dilanjutkan menuju lokasi selanjutnya, yakni Gunung Kidul untuk kegiatan BTKK Caving.

              Perjalanan yang kami lalui kali
ini sangat lama karena jarak yang cukup jauh. Belum lagi kondisi jalan yang
tidak mendukung membuat beberapa dari kami merasa mual dan memilih untuk tidur
selama perjalanan. Akhirnya sampai lah kami di tempat tujuan selanjutnya yaitu
Gunung Kidul  untuk melaksanakan BTKK Caving.
Saat kami tiba disana, suara sapi dan kambing
terdengar jelas seakan menyambut kedatangan kami, ditambah lagi dengan indahnya
hamparan sawah yang hijau membawa ketenangan tersendiri dalam diri kami. Sambil
menikmati semua itu, kami pun mulai menurunkan carrier satu per satu dari dalam truk, dan membawanya menuju ke salah
satu tempat milik penduduk. Setelah itu, kami langsung ganti pakaian kami
dengan cover all/wearpack dan memakai helm serta sepatu boot. Kami pun
mulai berangkat untuk mengeksplor Goa Senen. Pemandangan yang tidak biasa
muncul saat kami berjalan menuju tempat tujuan kami, yaitu kami sangat mirip
dengan tim bedah rumah yang ada di Tv, canda tawa pun mengiringi langkah kami
hingga kami pun sampai di tempat tujuan kami.

Saat sampai di
mulut Goa, anggota biasa yang menemani kami melakukan ekslpor menjelaskan apa
yang harus kami lakukan nantinya di dalam. Kemudian setelah itu, satu per satu
dari kami mulai memasuki Goa dan mulai melakukan eksplor pada Goa Senen. Kagum,
mungkin seperti itu lah perasaan kami saat melihat keindahan Goa Senen. Serta
ada satu hal yang sangat menarik pandangan kami, yaitu ornamen di dalam goa
yang sangat indah. Dia putih dan berkilau seperti kristal. Dan saat kami
tanyakan kepada anggota biasa ternyata dia itu stalaktit yang masih hidup,
benar benar sangat indah. Eksplor yang kami lakukan cukup lama, hingga setiap
sudut goa rasanya sudah kami masuki, bahkan pada sudut yang paling kecil dan
gelap sampai sampai kami bertemu dengan penghuni asli goa yaitu kelelawar. Setelah
itu, kami melakukan foto bersama untuk mengabadikan momen pertama kami di dalam
goa  di salah satu handphone milik
anggota biasa. Foto bersama itu menandakan 
telah berakhirnya  kegiatan
eksplor kami di Goa Senen. Kami pun mulai keluar dan kembali ke tempat pertama
kami untuk mengambil carrier dan alat menuju tempat camp kami,
dan melakukan aktivitas camp seperti biasanya sambil menunggu waktu
evaluasi, dan setelah itu kami mulai istirahat.

Hari kedua kami
ekslpor goa, diawali dengan olahraga pagi seperti biasa kemudian ganti cover
all/wearpack
dan dilanjut dengan sarapan. Setelah itu kami dibagi menjadi
dua tim,  tim satu dan tim dua. Tim satu
melakukan eksplor goa vertikal terlebih dahulu di Goa Senen (tetapi goanya
berbeda dengan goa yang kami eksplor kemarin) dan tim dua melakukan eksplor goa
horisontal terlebih dahulu di Goa Plelen. Apa yang telah kami pelajari saat
diklat mulai kami praktikkan disini, seperti SRT an dan mapping. Waktu
eksplor kami kali ini cukup singkat, karena kondisi cuaca yang hujan tidak
memungkinkan kami untuk berlama lama berada di dalam goa, akhirnya kami pun di
perintahkan untuk segera keluar goa. Karena hujan yang sangat deras membuat
kami harus berteduh terlebih dahulu sebelum kembali ke tempat camp.  Sembari menunggu hujan berhenti, kami pun
melakukan sharing materi dan berbincang – bincang. Karena sudah cukup
lama kami berteduh dan sepertinya hujan masih akan lama berhentinya, maka kami
memutuskan untuk kembali ke camp sambil hujan hujanan. Hujan membuat
perut kami merasa lapar, akhirnya karena kami kehabisan snack dan waktu itu
belum waktunya makan malam jadi dengan bahan seadanya yaitu beras, bawang
putih, bawang merah, dan masako, hasil sisa kami di Kalipancur kami masak untuk
mengganjal perut kami sebelum makan malam datang. Sembari memasak kami pun
berbincang bertukar cerita tentang ekslpor kami tadi. Sampai tidak terasa
akhirnya masakan kami dengan bahan seadanya itu sudah matang dan  jadilah “Nasi Bawang”. Meskipun dengan
bahan yang seadanya itu tapi rasanya kami akui memang enak, entah itu enak atau
kami yang sedang lapar satu nesting nasi bawang pun habis hingga tidak bersisa.
Langit mulai gelap dan kami masih berbincang semakin serunya. Hingga cahaya
lampu motor terlihat dari jarak kejauhan, yang membuat kami semua merasa senang
karena makan malam datang, akhirnya kami pun makan malam kemudian sholat dan
beraktivitas camp seperti biasanya sambil menunggu evaluasi dan kemudian
kami istirahat.

Hari ketiga
kami eksplor goa, diawali dengan olahraga dan sarapan seperti biasa. Di hari
ketiga ini, kami bertukar peran. Tim yang kemarin melakukan eksplor goa
vertikal sekarang berganti mengeksplor 
goa horisontal begitupun sebaliknya. Hanya saja ada yg berbeda, kemarin
kedua tim berjalan berbeda arah, sedangkan kali ini kedua tim berjalan searah
menuju satu tempat, dan ternyata goanya memang berdekatan dan saling
berhubungan. Kami pun mulai mengeksplor goa masing – masing. Namun ada yang
aneh dengan kami, awalnya saat olahraga dua dari kami izin ke kamar mandi untuk
buang air besar, kemudian saat kami mulai memasuki goa, salah satu dari kami
juga izin untuk buang air besar, dan saat kami sudah berjalan di dalam goa
melakukan eksplor dan mapping, beberapa dari kami izin buang air besar
karena sudah tidak tahan lagi, sampai sudah tidak tahannya  hal memalukan dan lucu akhirnya terjadi.
Eksplor dan mapping kali ini tidak terlalu lama mengingat pada saat itu
hari Jumat dan yang laki-laki harus sholat Jumat. Akhirnya anggota biasa
menyuruh kami untuk berhenti, dan 
beberapa dari kami pun langsung izin meninggalkan goa berlari menuju
kamar mandi untuk berebut buang air besar. Kami bingung dengan apa yang terjadi
pada kami, sampai kami mengira diare yang kami alami diakibatkan oleh air yang
kami minum, yaitu air keran. Karena kami tidak memasak air tersebut melainkan
langsung meminumnya. Akan tetapi mengapa baru hari ketiga kami merasakan sakit
perut,  padahal dari awal kami datang,
kami sudah minum pakai air keran dan akhirnya kami pun tau penyebabnya, yaitu
nasi bawang yang kemarin kami makan itulah penyebabnya. Karena hanya satu orang
saja yang tidak terkena diare, dan dia tidak terkena diare karena dia tidak
ikut makan nasi bawangnya kemarin. Karena nasi bawang itu momen lucu dan konyol
terjadi sampai sampai ada yang 7 kali dia buang air besar. terima kasih nasi
bawang.

Setelah sholat
Jumat selesai, kami pun melanjutkan eksplor kami. Kali ini lebih lega, karena
kami sudah tidak sakit perut lagi. Eksplor kali ini sangat seru dan asik,
karena kami bertemu dengan fauna goa lebih banyak dibandingkan saat eksplor goa
sebelumnya, bahkan kami banyak bertemu ular sampai tiga kali disana. Kami juga
bertemua kalicemati, jangkrik, ikan, kelelawar, katak, sampai timun pun kami
temui di dalam goa berair. Ditambah lagi goa yang kami eksplor kali ini juga
terbilang besar, hingga tidak terasa kami melakukan eksplor sampai langit sudah
mulai gelap. Dan akhirmya kami pun kembali ke camp, melakukan aktivitas camp
seperti biasa, sambil menunggu waktu evaluasi dan setelah itu kami
istirahat. Berakhirnya hari ini menandai berakhirnya juga eksplor goa kami di
Gunung Kidul, mengingat besok kami sudah harus kembali ke Semarang. Senang
memang akhirnya semua ini akan segera berakhir, tetapi sedih juga karena harus
meninggalkan keindahan Gunung Kidul yang sudah membuat kami merasa nyaman.

Hari terakhir
kami di Gunung Kidul, diawali dengan aktivitas camp seperti mandi, ganti
baju, sarapan dan juga packing. Di hari terakhir ini kami semua sangat gabut
, kami hanya tiduran, berbincang, main games , bercanda dan
menyanyi. Sambil menunggu truk yang membawa kami datang. Sampai-sampai kami
langsung fokus melihat kearah jalan setiap ada suara kendaraan. Cukup lama saat
itu, kami menunggu truk datang. Sampai datang lah anggota biasa yang menyuruh
kami berfoto di depan mulut Goa Senen, untuk dijadikan sebagai dokumentasi.
Dengan membawa carrier , kami menuju mulut Goa dan mulai mencari tempat
untuk berpose, sambil beberapa dari kami membawa bendera WAPEALA. Setelah
selesai berfoto, kami pun kembali ke camp dan kembali menunggu truk
datang. Sampai pada akhirnya datang juga truk tersebut, kami semua langsung
berteriak gembira melihat kedatangan truk tersebut dan bersiap siap menuju truk
tersebut. Sesampainya di truk, kami langsung memasukan carrier dan
barang yang lain ke dalam truk. Kemudian berfoto bersama anggota biasa sebelum
pulang. Satu per satu dari kami pun mulai naik ke dalam truk, dan siap untuk
kembali ke Semarang. Suara pluit dan teriakan WAPEALA menandai berakhirnya
kegiatan BTKK RC & Caving Masa Bhakti Lapis XXXV kali ini. Sampai jumpa di
perjalanan berikutnya. Salam Lestari !

Foto BTKK Caving




Foto BTKK RC




Penulis :

Ditya Riski Taher (W-718 Ih)

Devi Liana (W-719 Ih)

Penyunting :

M.Naufal Nurrahman (W-711 Dp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor : W-711 Dendrolagus pulcherrimus , WAPEALA UNDIP